Minggu, 12 Agustus 2012

PERKEMBANGAN EMOSI SISWA SMP


OLEH SAIFUL AMIN

A.    Konsep Emosi.

Emosi menurut Sunarto dan Agung (2006:150) adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Sarlito (1982:59) berpandangan bahwa emosi merupakan warna afektif yang lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Warna afektif adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari. Dari dua pengertian di atas dapat ditarik beberapa hal berkaitan dengan emosi, yaitu:
1.     emosi berada pada ranah afektif;
2.     emosi menyertai perbuatan kita sehari-hari;
3.     emosi menyangkut perubahan mental dan fisik;
4.     emosi berwujud tingkah laku yang nampak.
Dalam kaitannya dengan perubahan fisik yang nampak, Sunarto dan Agung (2006:150) mengidentifikasi beberapa perubahan-perubahan fisik pada saat emosi, antara lain berupa:
1.      reaksi elektris pada kulit, meningkat bila terpesona;
2.      peredaran darah, bertambah cepat bila marah;
3.      denyut jantung, bertambah cepat bila terkejut;
4.      pernafasan, bernafas panjang bila kecewa;
5.      pupil mata, membesar bila marah;
6.      liur, mengering kalau takut atau tegang;
7.      bulu roma, berdiri kalau takut;
8.      pencernaan, mencret-mencret kalau tegang;
9.      otot-otot, menegang atau bergetar kalu tegang atau takut.
Dari sisi mental, emosi dapat berupa cinta/kasih sayang; gembira; marah, takut, permusuhan, cemas, merasa bersalah, frustasi, dan cemburu. (Jersid, 1957, dalam Suanarto dan Agung, 2006:151, juga Slavin, 1997 dalam Nur, 2004:73)

B.     Ciri-Ciri Emosi Remaja

Sebelum menginjak pada pembahasan ciri-ciri emosi remaja, maka akan dideskripsikan dahulu konsep remaja. Ditinjau dari sisi tahapannya, Nberti (1957, dalam Makmum, 1985:3) menyatakan bahwa remaja adalah suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai datangnya awal masa dewasa. Sedangkan Spronger  meninjau remaja pada sisi pertumbuhan. Remaja menurut Spronger (dalam Makmun, 1985:4) remaja adalah masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental, ialah kesadaran akan aku, berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan ke arah dan ke dalam berbagai lapagnan hidup.
Berdasar pada definisi di atas, diketahui bahwa remaja berada pada masa transisi/perubahan, baik dari sisi fisik, kognitif, sosial, maupun mentalnya. Remaja dari sisi emosi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka.
Sebagian kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan sebagaian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai seorang dewasa.

2.      Sering bertingkah laku kasar.
Tingkah laku kasar ini sebenarnya untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
3.      Ledakan kemarahan.
Ledakan kemarahan diakibatkan  adanya kombinasi ketegangan psikologis,  biologis, dan kelelahan karena bekerja terlalu luas, pola makan yang tidak baik, tidur tidak cukup.
4.      Tidak/kurang toleran kepada orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri.
Hal ini terjadi karena remaja kurangnya rasa percaya diri. Remaja mempunyai pendapat bahwa ada jawaban yang absolut dan bahwa mereka mengetahuinya.
5.      Marah kalau ditipu.
Para remaja mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara lebih obyektif dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu.
6.      Pemberontak.
Gejala ini merupakan pernyataan-pernyataan/ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa.
7.      Konflik dengan orang tua.
Banyak remaja yang menginginkan kebebasa sebagai manifestasi perasaan sudah dewasa, sedang orang tua masih menganggap mereka sebagai anak-anak. Hal ini dapat memicu konflik dengan orang tua.
8.      Sering melamun.
Para remaja sering melamun memikirkan masa depan mereka. Banyak diantara mereka menafsirkan terlalu tinggi kemampuan mereka sendiri dan berpeluang memasuki pekerjaan serta memegang jabatan tertentu. (Suanrto dan Agung, 2006:155-156).

C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emosi Remaja.

Perkembangan emosi remaja ditentukan oleh berbagai faktor yang mana antara faktor yang satu dengan lainnya saling terkait. Faktor-faktor tersebut secara rinci dideskripsikan oleh Suanarto dan Agung (2006:156-164) sebagai berikut:
1.     Kematangan.
Kematangan berkaitan erat dengan pengalaman hidup untuk memahami makna yang sebelumnya belum dimengerti. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, akan meningkatkan kematangannya dalam memberikan reaksi emosional secara terarah dan obyektif.
2.     Kemampuan belajar.
Kemampuan belajar remaja sangat mempengaruhi perkembangan emosinya. Ada beberapa jenis tipe belajar yang dilakukan oleh ramaja, yaitu:
a.      Belajar dengan coba-coba.
Remaja belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya, dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan.
b.      Belajar dengan cara meniru.
Hal ini dilakukan remaja dengan mengamati reaksi emosi teman sebaya atau orang lain. Kemudia ia mencontoh reaksi emosi tersebut pada saat mengalami peristiwa yang sama.
c.      Belajar dengan cara mempersamakan.
Remaja cenderung untuk mempersamakan dirinya denga tokoh yang diidolakan, termasuk dalam rekasi emosi yang dilakukan oleh tokoh yang diidolakan tersebut.
d.     Belajar melalui pengkondisian.
Remaja belajar memberikan reaksi emosional dengan diberikan kondisi-kondisi tertentu. Remaja berusaha membuat asosiasi reaksi emosional atas kondisi-kondisi berbeda tersebut berdasarkan pengalamannya.
e.      Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan/pelatihan.
Melalui pelatihan, para remaja dirancang untuk beraksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan  dicegah agar tidak beraksi secara emosional terhadap rangsangan yang tidak  menyenangkan.
3.     Keadaan fisik.
Remaja yang sehat umumnya perkembangan emosinya lebih optimal  dibanding remaja yang mendapatkan gangguna kesehatan fisik.
4.     Kemampuan intelektual.
Remaja yang pandai umumnya bereaksi lebih emosional terhadap berbagai rangsangan, dibanding dengan remaja yang kurang pandai. Namun remaja yang pandai lebih mampu mengendalikan ekspresi emosinya.
5.     Kondisi lingkungan.
Lingkungan yang sehat dan kondusif sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja. Remaja dari lingkungan yang tidak baik, umumnya kurang dapat mengendalikan ekspresi emosinya.
6.     Jenis kelamin.
Remaja laki-laki lebih sering dan lebih  kuat mengekspresikan emosinya dibanding perempuan. Ekspresi emosi berupa marah dianggap lebih cocok bagi laki-laki, sedang takut, cemas, kasih sayang dianggap lebih sesuai bagai perempuan.
7.     Jumlah keluarga.
Rasa cemburu dan marah labih umum  terdapat di kalangan keluarga besar, sedang rasa iri lebih umum  terdapat di kalangan keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan marah juga lebih umum dan lebih kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama.
8.     Pendidikan di keluarga.
Cara mendidik yang otoriter mendorong remaja mengembangkan emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara mendidik yang permisif  atau demokratis mendorong berkambangnya semangat dan kasih sayang.

D.    Implikasi Perkembangan Emosi Remaja terhadap Pendidikan di Sekolah.
Ditinjau dari sisi usia, remaja berada pada usia sekolah. Hari-hari yang dilalui, dan aktivitas yang mereka lakukan banyak berada pada wiayah belajar dan sekolah. Para pendidik di sekolah semestinya memahami hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan emosi remaja, sehingga dapat menempatkan remaja ini pada proporsi sesuai dengan kondisi perkembangannya.
Karena remaja berada pada masa “panca roba”, beberapa diantara mereka oleh Slavin  disebut “kekacauan emosi” (1997, dalam Nur, 2004:74). Kekacauan emosi ditunjukkan dalam bentuk-bentuk: (1) perilaku murung; (2) putus asa; dan (3) marah yang tidak diketahui sebabnya. Bila kekacauan emosi tidak ditangani dan memperoleh bimbingan secara benar, maka bisa mengakibatkan hal-hal yang lebih parah seperti: (1) penyalah gunaan obat bius dan alkohol; (2) kejahatan, seperti pencurain, penjambretan, perampokan, dan sebagainya; (3) resiko hamil di luar nikah. (Nur, 2004: 74-75).
Untuk itu salah satu tugas orang tua, termasuk pendidik adalah memastikan dan membimbing meraka untuk melalui masa remaja itu dengan sebaik-baiknya agar tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat jasmani, mental, dan emosionalnya. Elias, Tobias, dan Friedlander (2003:33) berpesan kepada orang tua (termasuk guru) dengan menyatakan:
Tugas orang tua adalah memasktikan mereka sampai pada tujuan yang sebenarnya, yaitu menjadi orang dewasa yang memiliki kepekaan emosional dengan sedikit kecelakaan di sepanjang jalan dan membantu ketika mereka satu, dua kali terperosok dan mendapat masalah. Orang tua bukan mencoba membesarkan remaja super karana remaja super balum tentu menjadi orang dewasa yang beremosi seimbang dan sukses. Masa remaja adalah masa belajar untuk menjadi orang dewasa, bukan belajar menjadi remaja yang sukses.

Orang tua termasuk pendidik, perlu memahami hal-hal yang dibutuhkan oleh remaja agar perkembangan emosionalnya positif dan optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, ada empat hal yang dibutuhkan oleh remaja, yaitu:
1.      Kasih.
Kasih sayang membentuk landasan kehidupan dan kerjasama keluarga. Kasih orang tua/guru dapat diwujudkan dalam bentuk: ucapan atau gerakan; merauakan prestasi yang diperoleh remaja; dan berbagi momen istemewa bersama mereka.
2.      Kelakar.
Berkelakar dan tertawa bukan hal yang sepele. Berkelakar dan tertawa merupakan vitamin penting untuk kejiwaan. Humor dapat mengurangi kemarahan dan stres serta meningkatkan toleransi. Humor akan membantu menciptakan suasana yang dirasakan nyaman oleh remaja. Cinta membuat dunia tetap berputar, sementara tawa membuat dunia menarik.
3.      Kaidah.
Kaidah bukan melulu berbentuk pengekangan, tetapi lebih berupa fokus dan arah serta penetapan batas. Kaidah dan batasan itu penting untuk memberi remaja fokus dan tujuan dalam menumpahkan energi mereka. Remaja menginginkan batasan dan disiplin, karena dua hal itu membantu mereka aman.
4.      Koreksi.
Koreksi yang dimaksud adalah menempatkan remaja lebih banyak menjadi kontributor dari pada konsumen dan lebih memiliki daripada membeli. Orang tua/guru perlu mengkomunikasikan nilai-nilai, aturan, dan harapan keapda remaja dengan jelas dan sungguh-sungguh. Koreksi menjadi penting, karena koreksi menyediakan konteks untuk memahami kaidah dan kasih serta menyediakan sumber kelakar. (Elias, Tobias, dan Friedlander,2003:34-109)
Dengan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka, maka guru dapat dapat menghadapi masalah emosi remaja di lingkungan sekolah dengan mengambil langkah-langkah berikut:
·         Dalam hal siswa yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka guru harus konsisten dalam mengelola kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa;
·         Bagi siswa yang suka berlaku kasar, maka hendaknya guru menfasilitasi mereka untuk mencapai keberhasilan dalam tugas-tugas belajar mereka, dengan selalu mendorong mereka untuk bersaing dengan diri mereka sendiri.
·         Adanya ledakan-ledakan kemarahan siswa, sebaiknya guru memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya dengan jalan tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pembicaraan,  dan memulai aktivitas baru. Jika masih belum mereda, maka guru dapat meminta bantuan guru konseling.
·         Untuk mengatasi pemberontakan siswa, guru dapat melakukan dua langkah, yaitu: (1) mencoba untuk mengerti mereka; dan (2) membantu siswa untuk dapat berhasil berprestasi dalam mata pelajaran yang diajarkan guru.
·         Bagi siswa yang mengalami konflik dengan orang tua di rumah, hendaknya guru dapat menjadi pendengar yang simpatik, apabila mereka berkenan menceritakan rahasia dirinya dan keluarganya.
·         Menghadapi siswa yang mempunyai kecakapan terbatas, tetapi selalu memimpikan kejayaan, maka guru dapat berusaha mendorong  siswa tersebut berusaha namun tetap mengingatkan dia untuk menghadapi kenyataan-kenyataan. Menyarankan tujuan pengganti yang dapat menjadi alternatif solusi yang baik.

DAFTAR  RUJUKAN

Elias, J.M., Tobias, E.S., Friedlandeer, S. Briant, 2003, Cara-Cara Efektif Mengasah EQ Remaja, Mengasuh dengan Cinta, Canda, dan Disiplin, Alih Bahasa Ali Milandaru, Kaifa, Bandung.

Makmun, 1985, Psikologi Belajar, Alfabeta, Bandung.

Nor. Mohammad, 2004, Perkembangan Selama Anak-Anak dan Remaja, disadur dari Chapter 3 buku Educational Psycology Theory and Practice, Robert E. Slavin, Pusat Sain dan Matematikan Sekolah, Unesa, Surabaya.

Sarwoto, Sarlito Wirawan, 1991, Psikologi REmaja, Rajawali Press, Jakarta.

Sunarto, dan Ny. Hartono, B. Agung, 2006, Perkembangan Peserta Didik, Rineka Cipta, Jakarta.

Kamis, 26 Juli 2012

Penyusunan Laporan PTK


oleh Drs. Saiful Amin, M.Pd.

PENDAHULUAN
Salah satu bagian penting dari proses penelitian adalah penyusunan laporan. Demikian pula halnya dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Meskipun agak berbeda, tetapi pada dasarnya sistematika laporan PTK tidak jauh berbeda dengan penelitian jenis lainnya. Hal yang berbeda justru pada isinya. Karena, PTK mempunyai kekhasan tertentu sehingga menjadi pembeda dari laporan penelitian jenis lain.
Pada umumnya, laporan PTK terdiri dari 3 (tiga) bagian besar, yaitu: 1) bagian awal; 2) bagian isi; dan 3) bagian penunjang. Bagian awal merupakan kulit dari laporan PTK. Bagian ini memuat hal-hal yang mengantar pembaca pada bagian isi. Bagian isi merukan inti atau daging dari laporan PTK. Sedang bagian penunjang berisi informasi-informasi lebih rinci yang tidak mungkin ditulis pada bagian isi.

BAGIAN AWAL LAPORAN PTK
Bagian awal laporan PTK terdiri dari:
1.  Cover/Halaman Judul
2.  Halaman Pengesahan disertai tanggal pengesahan
3.  Abstrak
4.  Kata Pengantar disertai tanggal penyusunan
5.  Daftar Isi
6.  Daftar tabel
7.  daftar gambar (jika ada)
Penjelasan masing-masing bagian adalah sebagai berikut.
1. Cover/Halaman Judul
Isinya: Tulis judul, nama para peneliti (kalau tim semua disebutkan baik ketua maupun anggota), lambang sekolah/lambang tutwuri handayai, nama sekolah dan Depdiknas Kab/kota dimana penelitian itu dilakukan. (semua tulisan diformat tengah/center).
2.  Halaman Pengesahan
Isinya: Tulis judul, nama para peneliti (kalau tim semua disebutkan baik ketua maupun anggota), tempat penelitian, waktu penelitian berapa bulan, dana penelitian berapa besarnya, tandatangan oleh Ketua Peneliti sebelah kanan dan mengetahui serta ditandatangani Kepala Sekolah disebelah kiri dan/Diknas yang disertai stempel)
3.  Kata Pengantar
*) Pembimbing MGMP IPS Kabupaten Jombang, Kepala SMPN 2 Ploso, Kabupaten Jombang
 
Isinya: Ucapan terimakasih dari berbagai fihak, judul penelitian yang telah diselesaikan, singkatan hasil penelitian ini, dan mohon koreksi perbaikan dari para pihak.
4.  Abstrak
Khusus abstrak ditulis satu spasi. Isinya: Tulis judul, nama para peneliti (kalau tim, semua disebutkan baik ketua maupun anggota), singkatan latarbelakang masalah (satu paragraf), metode penelitian, tujuan/rumusan masalah penelitian, subjek penelitian, cara pengumpulan data, dan teknik analisis data. Selanjutnya, ringkasan/simpulan hasil penelitian serta beberapa sarannya. Kemudian dibawahnya ditulis kata-kata kunci yang terkait dengan judul penelitiannya.
5.  Daftar Isi
Isinya: Tulis nama semua bab dan sub-bab yang ada di dalam naskah laporan hasil penelitian saudara dan beri nomor halamanya
6.  Daftar Tabel
Isinya: Tulis nama semua Tabel yang ada di dalam naskah laporan hasil penelitian saudara dan beri nomor halamannya
7.  Daftar Gambar
Isinya: Tulis nama semua Gambar yang ada di dalam naskah laporan hasil penelitian saudara dan beri nomor halamannya
BAGIAN ISI LAPORAN PTK
Bagian isi memuat hal-hal sebagai berikut:
BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Hipotesis Tindakan (jika diperlukan)
E. Manfaat Penelitian
BAB II   KAJIAN TEORI/LANDASAN TEORI
A.   Kajian Teori tentang Variabel Masalah
B.    Kajian teori  variable Tindakan, serta  Hasil Penelitian yang Relevan
C.    Kerangka Berfikir
BAB III  METODE PENELITIAN
A.    Subjek Penelitian
B.    Prosedur/Siklus Penelitian
C.    Teknik Pengumpulan Data
D.   Teknik Analisis Data
BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Diskripsi Subjek penelitian
B.     Sajian Hasil Penelitian
C.    Pembahasan
BAB V   SIMPULAN DAN SARAN
A.    Simpulan
B.    Saran
Penjelasan dari sistematika tersebut adalah sebagai berikut.
BAB I  PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
·         Berisi latar belakang dan identifikasi permasalahan, yang pada pokoknya menguraikan konteks permasalahan, uraikan dan jelaskan berbagai masalah yang dijumpai di kelas yang akan dipakai sebagai subjek PTK (sebaiknya lebih dari 3 masalah yang disajikan di sini)
·         Semua masalah yang disajikan dalam latar belakang masalah sebaiknya diyakinkan dengan angka-angka (misalnya: 19 dari 40 siswa kelas 8 SMP..........., nilai ulangan pada materi Pasar pada matapelajaran IPS dibawah 50), jika perlu diyakinkan dengan menampilkan tabel-tabel persentase.
·         Akan lebih baik kalau di sini juga dijelaskan beberapa temuan hasil penelitian sebelumnya/terdahulu, secara singkat yang terkait dengan penelitian yang akan saudara teliti.
·         Dari berbagai masalah yang telah diuraikan di atas, pilihlah salah satu atau dua masalah yang dianggap penting untuk dipecahkan/ diberikan solusinya, pentingnya masalah itu diteliti dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian jika pelaksanaannya telah selesai.
 Rumusan Masalah
·         Perumusan masalah berupa kalimat-kalimat naratif, baik berupa pertanyaan maupun pernyataan problematis.
·         Rumusan masalah harus menampakkan masalah yang akan diteliti dan tindakan (metode pembelajaran) yang diterapkan untuk memecahkan masalah.
·         Rumusan masalah harus sejalan dengan judul penelitian.
·         Pada dasarnya judul penelitian yang diangkat berasal dari rumusan masalah yang ada disini.
·         Jumlah masalah yang diteliti boleh sebanyak: 1 atau 2 rumusan masalah, atau lebih. Tetapi jangan memecahkan banyak masalah dalam sekali PTK. Karena masalah-masalah tersebut dapat digunakan untuk PTK selanjutnya.
·         Biasanya dikemukakan beberapa butir permasalahan yang secara eksplisit menggambarkan tahap-tahap diagnosis masalah, terapi yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan yang diambil.



Tujuan Penelitian
·         Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk bukan kalimat tanya.
·         Berisi sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini sesuai dengan fokus permasalahan yang telah dirumuskan
·         Rumusan tujuan harus sejalan dengan rumusan masalah dan judul penelitian.
Hopotesis Tindakan (Jika Diperlukan)
·         Kalimat hipotesis tindakan harus sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian
·         Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas, tidak wajib/ tidak harus ada.
·         Peneliti boleh mencantumkan hipotesis tindakan atau tidak mencantumkannya dalam suatu proposal penelitian.
·         Hipotesis tindakan tidak dimaksudkan untuk menguji ada tidaknya perbedaan atau hubungan sebagaimana hipotesis dalam penelitian kuantitatif.
·         Hipotesis tindakan memuat usulan tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.
Manfaat Penelitian
·         Pada bagian ini peneliti memberikan gambaran yang jelas dan realistik mengenai kegunaan atau manfaat hasil penelitian.
·         Manfaat yang diuraikan dapat dikaitkan dengan peneliti, guru dan atau siswa, pengambil keputusan atau kebijakan, dan sebagainya.

BAB II  KAJIAN TEORI/LANDASAN TEORI
·         Berisi sejumlah teori yang relevan yang dijadikan sebagai kerangka acuan dalam kegiatan penelitian atau pemandu kegiatan penelitian.
·         Kerangka acuan ini analog dengan kerangka teori dalam penelitian kuantitatif.
·         Menguraikan secara perspektif tentang Konsep variabel-variabel yang diteiliti yang telah ditulis dalam rumusan masalah. Misalnya: Konsep Hasil Belajar; Konsep Metode Problem Posing; Konsep Motivasi Belajar; dan sejenisnya sesuai dengan judul penelitian.
·         Terkait dengan poin (3), sebaiknya peneliti mengutip pendapat dari para ahli pada setiap konsep itu. Selanjutnya, peneliti membuat statement sendiri, dimana statement peneliti itu berdasarkan atas kajian dari beberapa ahli tersebut. Jadi peneliti tidak hanya sekedar “menjejer” atau “copy paste” tulisan orang lain.
·         Kerangka berfikir mendeskripsikan argumentasi teoritis yang menunjukan bahwa tindakan yang diberikan dimungkinkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. Pada akhir bab ini dapat dikemukakan hipotesis tindakan.




BAB III  METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian
Pada bagian ini deskripsikan: 1) setting penelitian; 2) keadaan siswa; 3) waktu pelaksanaan; dan 4) sasaran yang dicapai
Prosedur/Siklus Penelitian
Pada bagian ini uraikan tahapan di setiap siklus yang memuat: rencana, pelaksanaan/tindakan, pemantuan dan evaluasi beserta jenis instrumen yang digunakan, refleksi (perlu dibedakan antara metode penelitian pada usulan penelitian dengan metode yang ada pada laporan penelitian).
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data bisa dilakukan dengan observasi, tes, dan dokumentasi. Observasi ketika peneliti melakukan aksi/pelaksanaan PTK, tes ketika penelitian memberikan soal untuk tes akhir tindakan/pelajaran, dan dokumentasi ketika peneliti mencari data pendukung di kantor Sekolah, Dinas Pendidikan, atau di TU sekolah.
Teknik Analisis Data
Analisis data dalam PTK sebaiknya cukup berupa tabel persentase dan perbandingan peningkatan antartabel (gain-score) hasil siklus pertama dengan siklus kedua, siklus 2 dengan 3, dan seterusnya.

BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini, deskripsikan hal-hal sebagai berikut:
·         setting penelitian secara lengkap kemudian uraian pelaksanaan masing-masing pertemuan di setiap siklus dengan disertai data lengkap berserta aspek-aspek yang direkam/diamati. Rekaman itu menunjukkan  adanya  perubahan akibat tindakan yang diberikan.
·         Tunjukkan adanya perbedaan dengan pelajaran yang biasa dilakukan. Pada refleksi diakhir setiap siklus berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang tenjadi dalam bentuk grafik.
·         Kemukakan adanya perubahan/kemajuan/perbaikan yang terjadi pada diri siswa, lingkungan kelas, guru sendiri, minat, motivasi belajar, dan hasil belajar.
·         Untuk bahan dasar analisis dan pembahasan kemukakan hasil keseluruhan siklus ke dalam suatu ringkasan tabel/grafik. Tabel/grafik rangkuman itu uapayakan dapat memperjelas perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara rinci dan jelas.





BAB V   SIMPULAN DAN SARAN
Pada bagian ini:
·         Sajikan simpulan dan hasil penelitian sesuai dengan hasil analisis dan tujuan penelitian yang telah disampaikan sebelumnya.
·         Berikan saran sebagai tindak lanjut berdasarkan simpulan yang diperoleh baik yang menyangkut segi positif maupun negatifnya.
C.  BAGIAN PENUNJANG LAPORAN PTK
Daftar Pustaka
Memuat semua sumber pustaka yang dirujuk dalam kajian teori yang digunakan dalam semua bagian laporan, dengan sistem penulisan yang konsisten menurut ketentuan yang berlaku.
Lampiran-Lampiran
Berisi lampiran berupa instrumen yang digunakan dalam penelitian, lembar jawaban dari siswa, izin penelitian dan bukti lain yang dipandang penting.

DAFTAR PUSTAKA
Kemmis, S. and McTaggart, R.1988. The Action Researh Reader. Victoria, Deakin University Press.
Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. 1996. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widya-iswara. Jakarta: Depdikbud, Dikdasmen.
Suhardjono. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah pada “Diklat Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsional Guru”, Direktorat Tenaga Kependidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas.
Suhardjono. 2005. Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai KTI, Makalah pada “Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di Makasar”, Jakarta, 2005
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2006. Peneilitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bina Aksara.
Supardi. 2005. Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widyaiswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Tita Lestari 2009 Manajemen Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Modul Pelatihan Bagi Guru dan Kepala Sekolah. Pusdiklat Depdiknas. Sawangan. Bogor.

Minggu, 01 Juli 2012

METODE PROBLEM POSING


METODE PROBLEM POSING
Disarikan oleh Saiful Amin


            Sutiarso (1999:16), menyatakan bahwa Problem Posing merupakan istilah dalam bahasa inggris, yaitu merumuskan masalah atau membuat masalah. Sedangkan As’ari (2000:5), mengartikan Problem Posing dengan pembentukan soal atau merumuskan soal atau menyusun soal. Lebih lanjut Suryanto (1998:8), menyatakan bahwa Problem Posing mempunyai beberapa arti, yaitu pertama perumusan soal dengan bahasa yang baku/standar atau perumusan kembali soal yang ada dengan beberapa perubahan agar sederhana dan dapat dikuasai, kedua, perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan atau alternatif soal yang masih relevan, dan ketiga, perumusan soal dari suatu situasi yang tersedia baik yang dilakukan sebelum, ketika, atau setelah mengerjakan soal.
            Problem Posing merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan masalah untuk membina siswa sehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, sesuai pendapat Cars dalam Sutiarso (1999:26), bahwa untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dapat dengan cara membiasakan siswa untuk merumuskan masalah (Problem Posing). Kegiatan merumuskan masalah juga memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk merekonstruksi pikiran-pikiran dalam rangka memahami materi pembelajaran. Kegiatan tersebut menentukan pembelajaran yang dilakukan siswa lebih bermakna.
            Silver dalam Najoan (1999:16), memberikan istilah Problem Posing pada tiga bentuk aktivitas kognitif yang berbeda seabagai berikut:
  1. Pengajuan presolusi (presolution posing), yaitu siswa membuat soal dari situasi yang diadakan.
  2. Pengajuan di dalam solusi (within solution posing) yaitu siswa merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan.
  3. Pengajuan setelah solusi (post solution posing), yaitu siswa memodifikasi dengan kondisi yang sudah diselesaikan untuk membuat soal baru.
            Belajar dengan Problem Posing mengandung arti bahwa siswa diajar untuk membuat masalah sendiri sesuai dengan situasi yang ada. Persoalan seperti ini tidak mudah bagi siswa karena dalam membentuk masalah siswa harus memikirkan, menceritakan ide-idenya dalam bentuk masalah sampai kepada taraf pengungkapan melalui kegiatan diskusi secara klasikal. Pengungkapan atau komentar siswa setiap proses pembelajaran terhadap masalah yang dirumuskan sendiri dapat meningkatkan hasil belajar dan semakin terlatih keterampilan berpikir untuk memahami konsep yang dipelajari.
            Brown dan Walter (1990:9), menyatakan bahwa dalam pengajuan masalah terdapat dua tahap kognitif , yaitu menerima dan menantang. Tahap menerima adalah suatu kegiatan di mana siswa dapat menerima situasi yang sudah ditentukan. Tahap menantang yaitu suatu kegiatan di mana siswa menantang situasi yang diberikan guru dalam rangka pembentukan atau perumusan masalah. Lebih lanjut Brown dan Walter (1993:15), menyatakan bahwa situasi dari Problem Posing berupa: 1.  gambar, 2. benda manipulatif, 3. permainan,
4. teorema atau konsep, 5. alat peraga, 6. soal, 7. penyelesaian suatu masalah melalui kegiatan diskusi dalam proses pembelajaran akan membantu siswa untuk mengembangkan daftar pengajuan soal dan mengembangkan kebiasaan mereka untuk merumuskan masalah ( soal-soal baru). 
            Guru menyadari bahwa siswa dalam pengajuan masalah membutuhkan lebih dari sekedar penarikan masalah/soal yang sudah ada sebelumnya. Akan tetapi melalui pelatihan yang terstruktur, siswa akan mampu mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi untuk menilai sejauh mana ketertarikan dan produktif masalah/soal yang mereka buat.
            Problem Posing merupakan suatu model pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan siswa dan dalam proses pembelajarannya membangun struktur kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif . Pada saat model pembelajaran  Problem Posing siswa melakukan hal yang lebih banyak, membentuk asosiasi untuk merumuskan soal dan mengajukan masalah/soal lebih kreatif dan melakukan pemecahan masalah (problem solving) yang lebih efektif. Merumuskan atau membentuk soal adalah suatu aktivitas dalam pembelajaran yang dapat mengembangkan motivasi dan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif karena dalam model pembelajaran  Problem Posing siswa mendapat pengalaman langsung dalam merumuskan (membentuk soal sendiri).
            Kegiatan merumuskan soal juga akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk merekonstruksikan pikiran-pikirannya, dan kegiatan ini memungkinkan pembelajaran yang dilakukan siswa lebih bermakna sesuai dengan skemata yang dimiliki siswa. Model pembelajaran  Problem Posing berarti siswa diberi kesempatan untuk beraktivitas untuk merumuskan soal-soal dan mendorong siswa agar lebih bertanggung jawab dalam belajarnya. Pembelajaran demikian merupakan proses membangun pemahaman seseorang sesuai skemata yang dimilikinya.
            Mengajukan pertanyaan berarti menunjukan pola pikir yang dimiliki oleh seseorang. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penanya, sebagai guru akan dapat mengukur “apakah pertanyaan siswa memilki sistematika atau tidak?”, “apakah pertanyaannya terstruktur atau tidak?”, “apakah pertanyaannya memiliki muatan atau tidak?”, apakah pertanyaan rasional atau tidak ?”, Guru memiliki kesempatan yang banyak memperbaiki melatih cara bimbingan yang akan diberikan itu akan berpengaruh positif bagi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Menurut Yamin (2007: 90), ada beberapa kiat untuk merangsang siswa mengajukan pertanyaan dalam proses pembelajaran, kiat ini telah banyak dicoba  dan dianggap merupakan teknik yang berhasil, antara lain teknik Bola Pertanyaan.
            Teknik Bola Pertanyaan dilaksanakan dengan cara anak diminta menuliskan pertanyaan atau permasalahan pada selembar kertas, kemudian kertas tersebut diremas sehingga membentuk seperti bola. Guru mengumpulkan bola-bola tersebut dan kemudian membagikannya lagi pada anak-anak (Yamin, M 2007: 92).
            Jika kelas membutuhkan penyegaran fisik seorang guru dapat meminta pada anak didik untuk untuk saling melempar bola pertanyaan, setelah aba-aba dari guru, kemudian guru meminta setiap anak mengambil sebuah bola pertanyaan, membukanya, dan kemudian menjawab pertanyaan yang ada dalam bola pertanyaan itu. Setiap siswa membuka pertanyaanya dan kemudian menjawabnya di depan kelas.





DAFTAR PUSTAKA
As’ari. A. 2000. Problem Posing untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru IPA. Jurnal Pelangi Pendidikan Matematika dan Sains. Jogjakarta. Tahun V. No. 1. Hal. 5 – 25.

Depdiknas. 2004. Penilaian Pembelajaran Pengetahuan Sosial. Depdiknas Dirjen Dikdasmen Dit PLP Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2. Jakarta: Depdiknas

Hamalik, Oemar. (2007). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Jalil, A,. 2005. Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa SMP pada Konsep Sistem Hormon. Jurnal Penelitian Kependidikan. 15. Nomor (2). 48-71

Joseph ,2001. Mengajar Matematika di Sekolah Dasar. Malang: IKIP Malang. Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas

Moh. Uzer Usman, Drs., dan Lilis Setiawati, Dra.  2000. Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya:

Nur, Muhammad, DR., & Wikandari, Retno Prima, M.Si. 2000. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya: University Press

Nurhadi, Yasin, B,. dan Senduk, A. G. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang

Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Silberman.,M.,L. Active Learning. 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Diterjemahkan oleh Raisul Muttaqin. 2004. Bandung: Nusamedia