Minggu, 01 Juli 2012

METODE PROBLEM POSING


METODE PROBLEM POSING
Disarikan oleh Saiful Amin


            Sutiarso (1999:16), menyatakan bahwa Problem Posing merupakan istilah dalam bahasa inggris, yaitu merumuskan masalah atau membuat masalah. Sedangkan As’ari (2000:5), mengartikan Problem Posing dengan pembentukan soal atau merumuskan soal atau menyusun soal. Lebih lanjut Suryanto (1998:8), menyatakan bahwa Problem Posing mempunyai beberapa arti, yaitu pertama perumusan soal dengan bahasa yang baku/standar atau perumusan kembali soal yang ada dengan beberapa perubahan agar sederhana dan dapat dikuasai, kedua, perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan atau alternatif soal yang masih relevan, dan ketiga, perumusan soal dari suatu situasi yang tersedia baik yang dilakukan sebelum, ketika, atau setelah mengerjakan soal.
            Problem Posing merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan masalah untuk membina siswa sehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, sesuai pendapat Cars dalam Sutiarso (1999:26), bahwa untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dapat dengan cara membiasakan siswa untuk merumuskan masalah (Problem Posing). Kegiatan merumuskan masalah juga memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk merekonstruksi pikiran-pikiran dalam rangka memahami materi pembelajaran. Kegiatan tersebut menentukan pembelajaran yang dilakukan siswa lebih bermakna.
            Silver dalam Najoan (1999:16), memberikan istilah Problem Posing pada tiga bentuk aktivitas kognitif yang berbeda seabagai berikut:
  1. Pengajuan presolusi (presolution posing), yaitu siswa membuat soal dari situasi yang diadakan.
  2. Pengajuan di dalam solusi (within solution posing) yaitu siswa merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan.
  3. Pengajuan setelah solusi (post solution posing), yaitu siswa memodifikasi dengan kondisi yang sudah diselesaikan untuk membuat soal baru.
            Belajar dengan Problem Posing mengandung arti bahwa siswa diajar untuk membuat masalah sendiri sesuai dengan situasi yang ada. Persoalan seperti ini tidak mudah bagi siswa karena dalam membentuk masalah siswa harus memikirkan, menceritakan ide-idenya dalam bentuk masalah sampai kepada taraf pengungkapan melalui kegiatan diskusi secara klasikal. Pengungkapan atau komentar siswa setiap proses pembelajaran terhadap masalah yang dirumuskan sendiri dapat meningkatkan hasil belajar dan semakin terlatih keterampilan berpikir untuk memahami konsep yang dipelajari.
            Brown dan Walter (1990:9), menyatakan bahwa dalam pengajuan masalah terdapat dua tahap kognitif , yaitu menerima dan menantang. Tahap menerima adalah suatu kegiatan di mana siswa dapat menerima situasi yang sudah ditentukan. Tahap menantang yaitu suatu kegiatan di mana siswa menantang situasi yang diberikan guru dalam rangka pembentukan atau perumusan masalah. Lebih lanjut Brown dan Walter (1993:15), menyatakan bahwa situasi dari Problem Posing berupa: 1.  gambar, 2. benda manipulatif, 3. permainan,
4. teorema atau konsep, 5. alat peraga, 6. soal, 7. penyelesaian suatu masalah melalui kegiatan diskusi dalam proses pembelajaran akan membantu siswa untuk mengembangkan daftar pengajuan soal dan mengembangkan kebiasaan mereka untuk merumuskan masalah ( soal-soal baru). 
            Guru menyadari bahwa siswa dalam pengajuan masalah membutuhkan lebih dari sekedar penarikan masalah/soal yang sudah ada sebelumnya. Akan tetapi melalui pelatihan yang terstruktur, siswa akan mampu mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi untuk menilai sejauh mana ketertarikan dan produktif masalah/soal yang mereka buat.
            Problem Posing merupakan suatu model pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan siswa dan dalam proses pembelajarannya membangun struktur kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif . Pada saat model pembelajaran  Problem Posing siswa melakukan hal yang lebih banyak, membentuk asosiasi untuk merumuskan soal dan mengajukan masalah/soal lebih kreatif dan melakukan pemecahan masalah (problem solving) yang lebih efektif. Merumuskan atau membentuk soal adalah suatu aktivitas dalam pembelajaran yang dapat mengembangkan motivasi dan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif karena dalam model pembelajaran  Problem Posing siswa mendapat pengalaman langsung dalam merumuskan (membentuk soal sendiri).
            Kegiatan merumuskan soal juga akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk merekonstruksikan pikiran-pikirannya, dan kegiatan ini memungkinkan pembelajaran yang dilakukan siswa lebih bermakna sesuai dengan skemata yang dimiliki siswa. Model pembelajaran  Problem Posing berarti siswa diberi kesempatan untuk beraktivitas untuk merumuskan soal-soal dan mendorong siswa agar lebih bertanggung jawab dalam belajarnya. Pembelajaran demikian merupakan proses membangun pemahaman seseorang sesuai skemata yang dimilikinya.
            Mengajukan pertanyaan berarti menunjukan pola pikir yang dimiliki oleh seseorang. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penanya, sebagai guru akan dapat mengukur “apakah pertanyaan siswa memilki sistematika atau tidak?”, “apakah pertanyaannya terstruktur atau tidak?”, “apakah pertanyaannya memiliki muatan atau tidak?”, apakah pertanyaan rasional atau tidak ?”, Guru memiliki kesempatan yang banyak memperbaiki melatih cara bimbingan yang akan diberikan itu akan berpengaruh positif bagi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Menurut Yamin (2007: 90), ada beberapa kiat untuk merangsang siswa mengajukan pertanyaan dalam proses pembelajaran, kiat ini telah banyak dicoba  dan dianggap merupakan teknik yang berhasil, antara lain teknik Bola Pertanyaan.
            Teknik Bola Pertanyaan dilaksanakan dengan cara anak diminta menuliskan pertanyaan atau permasalahan pada selembar kertas, kemudian kertas tersebut diremas sehingga membentuk seperti bola. Guru mengumpulkan bola-bola tersebut dan kemudian membagikannya lagi pada anak-anak (Yamin, M 2007: 92).
            Jika kelas membutuhkan penyegaran fisik seorang guru dapat meminta pada anak didik untuk untuk saling melempar bola pertanyaan, setelah aba-aba dari guru, kemudian guru meminta setiap anak mengambil sebuah bola pertanyaan, membukanya, dan kemudian menjawab pertanyaan yang ada dalam bola pertanyaan itu. Setiap siswa membuka pertanyaanya dan kemudian menjawabnya di depan kelas.





DAFTAR PUSTAKA
As’ari. A. 2000. Problem Posing untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru IPA. Jurnal Pelangi Pendidikan Matematika dan Sains. Jogjakarta. Tahun V. No. 1. Hal. 5 – 25.

Depdiknas. 2004. Penilaian Pembelajaran Pengetahuan Sosial. Depdiknas Dirjen Dikdasmen Dit PLP Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2. Jakarta: Depdiknas

Hamalik, Oemar. (2007). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Jalil, A,. 2005. Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa SMP pada Konsep Sistem Hormon. Jurnal Penelitian Kependidikan. 15. Nomor (2). 48-71

Joseph ,2001. Mengajar Matematika di Sekolah Dasar. Malang: IKIP Malang. Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas

Moh. Uzer Usman, Drs., dan Lilis Setiawati, Dra.  2000. Upaya Optimalisasi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya:

Nur, Muhammad, DR., & Wikandari, Retno Prima, M.Si. 2000. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya: University Press

Nurhadi, Yasin, B,. dan Senduk, A. G. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang

Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Silberman.,M.,L. Active Learning. 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Diterjemahkan oleh Raisul Muttaqin. 2004. Bandung: Nusamedia







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar